//
home

Latest Post

Long Term Memory

Masihkah Anda mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu? Misalnya masa-masa sekolah seperti saat bersekolah di SD barangkali? Saya masih ingat ketika kelas 2 SD (kalau tidak salah) saya pernah menangis di depan kelas karena salah membacakan surat Al Fatihah. Berulang kali saya mencoba mengulanginya namun tidak berhasil. Guru dan teman-teman hanya menertawakan sehingga saya pun menangis karena … Baca lebih lanjut

  • Idul Qurban telah beranjak melintasi hari-hari kita seperti tahun-tahun yang lalu. Terus apa yang kita dapatkan? Lho kok bertanya apa yang kita dapatkan? Bukankah kita yang memberi? Bukankah kita yang mengeluarkan uang, tenaga dan waktu untuk memotong hewan kurban? Adakah Anda menemukan sesuatu atau tepatnya mendapatkan sesuatu setelah berkurban? 1kg, 2 kg atau 3-4 kantung daging? Ataukah Anda telah mendapatkan "nama" karena Anda telah mampu berkurban tahun ini? Silahkan jawab dalam hati saja ya... Selama menjadi panitia Idul Qurban di masjid terdekat selalu saja ada hal-hal yang "lucu" yang saya temui. Tahun lalu saya menemui seorang bapak yang menjadi panitia pemotongan menolak untuk saya pinjam goloknya untuk memutus kepala kambing yang telah dipotong, terus buat apa dia bawa golok kalau gitu, batin saya. Saya perhatikan dari awal sampai akhir ternyata goloknya tidak dipergunakan. Tahun ini pun saya menemui hal yang "lucu" lagi terkait beliau (maksudnya orang atau Bapak yang sama). Alhamdulillah beliau sudah gunakan goloknya namun yang lucunya adalah beliau mengambil sendiri daging "jatah" dengan ukuran 2x dari yang seharusnya. Kami yang menimbang takaran jatah daging hanya terdiam melihat kelakuan bapak yang satu ini. Mungkin jarang makan daging, batin saya. Atau mungkin beliau berkurban banyak tahun ini, so sangat rugi kalau membawa jatah daging hanya sedikit. Sebenarnya apa sih urgensinya kita berkurban? Ada riwayat dari Ahmad dan Ibnu Majah terkait urgensi kita berkurban : Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” dari riwayat di atas sangat jelas bahwa berkurban adalah salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketakwaan yang memerlukan pengorbanan harta untuk menjalaninya. Pengorbanan yang setimpal dengan pahalanya seperti yang terkutip dalam riwayat berikut ini : Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan ibn Majah) Setiap umat yang berusaha meraih ketakwaan pasti Allah akan menguji kadar kegigihan dalam mengorbankan diri untuk meraih derajat muttaqien, pun demikian para Nabi yang agung. Tercatat dengan indah dalam Al Qur'an Surat Ash Shaffat ayat 102-107 : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Semoga kita bisa meraih derajat muttaqien...